MTQ XII Boalemo Dibuka dengan Pesan Menyentuh tentang Makna Al-Qur’an

Payango.co.id | Boalemo – Senja perlahan turun di Alun-Alun Tilamuta, Senin (20/4/2026). Langit yang mulai temaram menjadi saksi berkumpulnya masyarakat, qari dan qariah, serta para tokoh daerah dalam satu tujuan yang sama mengagungkan kalam Ilahi.

Di tempat itulah, Wakil Bupati Boalemo, Lahmuddin Hambali, secara resmi membuka pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XII tingkat Kabupaten Boalemo. Namun lebih dari sekadar seremoni pembukaan, momen itu terasa seperti panggilan hati mengajak setiap yang hadir untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Lahmuddin menyampaikan bahwa MTQ bukan sekadar ajang membaca Al-Qur’an dengan merdu. Lebih dalam dari itu, MTQ adalah ruang untuk menghadirkan kembali nilai-nilai suci Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“MTQ ini bukan hanya tentang tilawah. Ini adalah momentum menghadirkan kembali Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita,” ucapnya, dengan nada yang sarat makna.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, ia mengingatkan bahwa manusia seringkali terseret arus terpapar derasnya informasi, dihadapkan pada berbagai godaan, hingga tanpa sadar nilai-nilai moral mulai terkikis.

Dalam kondisi itulah, kata Lahmuddin, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang tak pernah redup. Ia menjadi penuntun yang selalu relevan, mengarahkan manusia pada jalan kebenaran di tengah gelapnya zaman.
Namun, dengan kejujuran yang menggetarkan, ia juga mengajak semua untuk bercermin.
“Tidak sedikit dari kita yang menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan seremonial. Dibaca, tapi belum sepenuhnya dipahami. Dilantunkan, tapi belum sepenuhnya diamalkan,” ungkapnya.
Kalimat itu seakan menggema di antara hadirin. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Al-Qur’an bukan sekadar di bibir, melainkan harus sampai ke hati dan perbuatan.

MTQ XII ini pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Ia menjadi ruang refleksi dan introspeksi untuk kembali menata hubungan dengan kitab suci, sekaligus memperkuat komitmen membangun masyarakat yang berlandaskan iman dan takwa.
Lahmuddin juga menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ada hal yang jauh lebih mendasar yakni kualitas moral dan spiritual masyarakatnya.

“Kita bisa membangun banyak hal secara fisik. Tapi tanpa akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab, semua itu tidak akan membawa keberkahan,” pungkasnya.

Malam pun kian larut, namun suasana di Alun-Alun Tilamuta justru terasa hangat. Lantunan ayat-ayat suci mulai menggema, menyatu dengan harapan yang diam-diam tumbuh di hati setiap yang hadir.
Di sana, MTQ bukan hanya tentang siapa yang terbaik dalam membaca. Tetapi tentang bagaimana setiap jiwa kembali belajar mendengar dan perlahan, memahami pesan Tuhan yang selama ini mungkin terlewatkan.

Eustas kidd*

Show More
Back to top button