Puluhan Sapi Disuntik, Masa Depan Peternak Menguat

Payango.co.id | Boalemo — Pagi itu, suasana Desa Hutamonu, Kecamatan Botumoito, terasa berbeda. Di tengah hamparan ladang dan suara ternak yang bersahutan, harapan baru bagi para peternak perlahan tumbuh. Bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi sebuah langkah nyata untuk masa depan peternakan rakyat.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Boalemo melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan melaksanakan program sinkronisasi berahi sapi pada 10–11 Februari 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan populasi sekaligus mutu genetik sapi lokal agar lebih unggul dan produktif.
Sebanyak 15 ekor sapi betina menjadi sasaran awal program tersebut. Hewan-hewan ternak itu mendapatkan suntikan hormon perangsang berahi serta vitamin B kompleks dalam bentuk tablet — semuanya diberikan secara gratis oleh petugas kesehatan hewan. Sebelum tindakan dilakukan, setiap sapi terlebih dahulu diperiksa kondisi tubuhnya melalui penilaian Body Condition Scoring (BCS), yang menentukan tingkat kelayakan reproduksi ternak.
Kepala Bidang Peternakan dan Keswan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Boalemo, drh. Soemari, menjelaskan bahwa sasaran ideal berada pada nilai BCS 2,75, yakni kondisi tubuh sedang — tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Kondisi tersebut dinilai paling optimal untuk proses reproduksi. Ia menambahkan, jika sapi tidak menunjukkan tanda birahi hingga hari keempat setelah penyuntikan pertama, maka akan diberikan suntikan hormon kedua dan inseminasi buatan (IB) dapat dilakukan pada hari ke-11 sejak penyuntikan awal.
“Kalau ada laporan sapi tidak minta kawin sampai tiga atau empat bulan, kami akan periksa reproduksinya. Di situlah peran program ini menjadi penting,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua BPD Desa Hutamonu yang turut mengawal kegiatan tersebut tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menilai program IB gratis sebagai angin segar bagi petani ternak di desanya, terlebih jumlah sapi pejantan di wilayah itu sangat terbatas.
Menurutnya, program unggulan daerah Boalemo periode 2025–2030 ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan peluang nyata untuk mempercepat pertumbuhan populasi ternak masyarakat. “Program ini sangat membantu petani ternak. Tanpa biaya sepeser pun, sapi-sapi kami bisa berkembang lebih cepat,” ungkapnya penuh harap.
Ia juga memanjatkan doa agar sapi-sapi yang telah diinseminasi dapat bunting dan melahirkan pedet sehat, sehingga populasi sapi meningkat sekaligus mencegah pemotongan sapi betina produktif yang seharusnya menjadi aset masa depan peternak.
Data petugas recorder mencatat, hari pertama kegiatan telah menjangkau 15 ekor sapi. Namun masih ada ternak yang belum terlayani dan dijadwalkan akan mendapatkan pelayanan pada kunjungan berikutnya di dusun lain.
Kegiatan ini sendiri terlaksana berkat sinergi antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Boalemo, Pemerintah Desa Hutamonu, serta dukungan mahasiswa KKN Universitas Pohuwato (UNIPO) yang ikut membantu di lapangan.
Di balik suntikan hormon dan prosedur medis yang tampak sederhana, tersimpan harapan besar masyarakat desa: harapan akan ternak yang sehat, ekonomi yang lebih baik, dan masa depan peternakan yang semakin menjanjikan. Sebab bagi mereka, setiap kelahiran pedet bukan hanya bertambahnya jumlah ternak — melainkan bertambahnya harapan hidup.
Eustas Kidd*







